Jakarta,Media Krimsuskum — Kasus dugaan penipuan oleh mitra bakul digital dengan kedok program Makan Bergizi Gratis hingga kini masih terus bergulir di Markas Besar
Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri). Para saksi korban telah dipanggil dan dimintai keterangan oleh penyidik guna mengungkap secara terang dugaan tindak pidana tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, para korban yang telah diperiksa penyidik turut melengkapi keterangannya dengan sejumlah bukti pendukung, antara lain bukti transfer dana, kwitansi pembayaran, proposal kerja sama, hingga dokumen-dokumen lain yang berkaitan langsung dengan perkara dugaan penipuan tersebut.
Namun hingga berita ini diturunkan, Putra CS, pihak yang diduga sebagai pelaku utama, tidak lagi terlihat batang hidungnya. Keberadaannya pun menjadi tanda tanya. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa yang bersangkutan diduga masih bergerak mencari korban baru bersama timnya, namun tidak lagi beroperasi di Jakarta atau Palembang.
“Informasi yang kami terima, mereka berpindah-pindah. Ada yang menyebut berada di wilayah Jawa Barat, sementara sebagian jaringan lain disebut-sebut masih berada di Palembang,” ujar salah satu korban yang enggan disebutkan namanya.

Kejadian Sudah Sejak November 2024
Perkara ini sejatinya bukan kejadian baru.
Dugaan penipuan tersebut telah berlangsung sejak November 2024, namun baru secara resmi dilaporkan ke pihak kepolisian pada Desember 2025, setelah para korban menyadari bahwa program yang dijanjikan tidak pernah terealisasi.
Akibat peristiwa ini, jumlah korban diperkirakan mencapai sekitar 150 orang, dengan total kerugian mencapai puluhan miliar rupiah. Para korban berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan umumnya adalah pelaku usaha kecil hingga menengah yang tergiur iming-iming kerja sama dengan program pemerintah.
Modus Janjikan Proyek Badan Gizi Nasional
Modus yang digunakan terbilang rapi dan meyakinkan. Para pelaku menjanjikan kerja sama dengan program pemerintah melalui Badan Gizi Nasional, khususnya untuk pelaksanaan proyek Makan Bergizi Gratis.

Untuk dapat bergabung, para calon mitra diwajibkan melakukan top up dana sebesar Rp30 juta, ditambah biaya proposal sebesar Rp2 juta. Tidak berhenti sampai di situ, setiap korban juga diminta menyiapkan dapur produksi, lengkap dengan peralatan memasak, sarana distribusi, hingga wadah makan (ompreng), dengan total anggaran yang mencapai ratusan juta rupiah per orang.
“Semua sudah kami siapkan sesuai arahan mereka. Dapur jadi, alat masak lengkap, ompreng sudah dibeli, tinggal jalan. Tapi proyeknya tidak pernah ada,” ungkap salah satu korban dengan nada kecewa.
Uang Disetor, Pelaku Menghilang
Setelah seluruh uang disetor dan kesiapan operasional dinyatakan lengkap, para pelaku justru menghilang tanpa kabar. Nomor telepon dan pesan singkat sulit dihubungi, sementara kantor operasional yang sebelumnya aktif mendadak sepi dan tidak lagi beroperasi.
Kondisi tersebut membuat para korban mulai curiga dan akhirnya menyimpulkan bahwa mereka telah menjadi korban penipuan yang dilakukan oleh Putra CS.
Korban Alami Kerugian Materiil dan Psikis
Tak hanya mengalami kerugian materiil dalam jumlah besar, para korban juga mengaku menderita tekanan psikis yang berat. Sebagian harus menanggung utang akibat modal usaha yang dikeluarkan, sementara yang lain mengalami gangguan mental karena harapan besar mereka terhadap program yang dijanjikan ternyata berujung kosong.

“Ini bukan hanya soal uang, tapi mental kami hancur. Banyak yang berharap ekonomi keluarga membaik, tapi justru sebaliknya,” tutur korban lainnya.
Kini, para korban berharap pihak kepolisian dapat mengusut tuntas kasus ini, menelusuri keberadaan para terduga pelaku, serta memberikan kepastian hukum dan keadilan bagi seluruh pihak yang telah dirugikan.
Mabes Polri sendiri masih terus melakukan pendalaman terhadap laporan dan bukti-bukti yang telah diserahkan oleh para saksi korban. Perkembangan lebih lanjut dari kasus ini akan terus dipantau.
(Elmisna,S.H.)
