Jakarta, Media-krimsuskum.com — Suasana duka yang mendalam menyelimuti seluruh rangkaian prosesi pemakaman almarhum pelayan Tuhan, Nusye Resye Dahoklori. Sebelum diberangkatkan ke tempat pemakaman, terlebih dahulu dilaksanakan ibadah penutupan peti jenazah di rumah duka yang berlokasi di Cilincing, Jakarta Utara.

Ibadah penutupan peti berlangsung dengan penuh khidmat dan air mata. Ratusan jemaat gereja, keluarga besar Daisuli, serta masyarakat sekitar memadati rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir.
Lagu-lagu pujian dan doa penghiburan dinaikkan, menguatkan keluarga yang ditinggalkan. Dalam suasana haru, keluarga diberi kesempatan terakhir untuk melihat dan mengantar almarhum sebelum peti ditutup.

Ibadah di rumah duka dipimpin oleh Pendeta Samuel, didampingi oleh Pendeta Sarah Blegur dan Pendeta Edisi Wun dan Anna Paoh. Ketiganya menyampaikan firman penguatan tentang pengharapan dalam Kristus, serta menegaskan bahwa kematian bukanlah akhir bagi setiap orang yang percaya kepada Tuhan.
Setelah ibadah penutupan peti selesai, jenazah kemudian diberangkatkan menuju TPU Rorotan untuk dimakamkan.Sepanjang perjalanan hingga tiba di lokasi pemakaman, jemaat terus mengiringi dengan doa dan puji-pujian.
Di TPU Rorotan, ratusan pelayat kembali memadati area pemakaman untuk mengikuti ibadah pelepasan terakhir.
Dalam khotbah penghiburan, kembali ditegaskan firman Tuhan dalam Injil Yohanes 11:25, bahwa Tuhan adalah kebangkitan dan hidup; barang siapa percaya kepada-Nya, ia akan hidup walaupun ia sudah mati. Firman tersebut menjadi sumber kekuatan bagi keluarga besar Daisuli dan seluruh jemaat.
Almarhum Nusye Resye Dahoklori dikenal sebagai pelayan Tuhan yang setia, rendah hati, dan penuh kasih dalam melayani. Ia aktif mendukung pelayanan gereja, membantu para pendeta, serta hadir bagi jemaat dalam suka maupun duka.

Dedikasi dan ketulusannya menjadikan beliau sosok yang dihormati dan dicintai banyak orang.
Tangis haru mengiringi saat peti jenazah diturunkan ke liang lahat. Doa-doa dipanjatkan, serta pujian kembali dinyanyikan sebagai ungkapan iman dan pengharapan akan kehidupan kekal yang telah dijanjikan Tuhan.

Rangkaian ibadah dari rumah duka di Cilincing hingga pemakaman di TPU Rorotan menjadi bukti besarnya kasih dan penghormatan kepada seorang pelayan Tuhan yang telah mengabdikan hidupnya dengan setia.
Kenangan, teladan, dan kasih yang ditinggalkan Nusye Resye Dahoklori akan terus hidup di hati jemaat, keluarga besar Daisuli, dan masyarakat yang mengenalnya.
(Elmisna,S.H)
